Minggu yang (Selalu) Kutunggu
Saya selalu berusaha menemukan sesuatu yang spesial di Hari Minggu.
Dengan keletihan luar biasa, pergi ke gereja adalah ritual yang terasa berat. Terdengar seperti paksaan. Bagaimana pun saya berusaha menjadikan momen pergi ke rumah Tuhan adalah sebuah piknik menyenangkan yang tak akan pernah dijumpai di tempat lain.
Bisa pula seperti mengunjungi Teman, yang ingin bercerita yang kisahnya tak bakal didapat dalam novel era sekarang, film masa lalu, sinetron 90-an, atau panggung kabaret zaman baheula.
Naif? Nyaris saya mengiyakan sampai kotbah pak pendeta demikian membahana, sampai ke titik dimana dia bermetafora. Ini kisah nyata, dia bilang.
Seorang ibu melahirkan bayi prematur 7 bulan. Berat lahirnya hanya 1,7 kg. Dokter sudah angkat tangan dan melakukan semampunya. Vonis telah diketuk. Si kecil diprediksi tak bakal bertahan hingga 5 tahun.
Hari berlalu. Minggu berganti bulan. Tahun bertambah hingga hitungan lebih dari 5. Waktu pun berlanjut hingga suatu saat si kecil menorehkan prestasi luar biasa. Dia menjadi manusia tercepat dunia 1990.
Hingga suatu saat, ada yang bertanya soal masa kecilnya. Pertanyaannya simpel: mengapa dia mampu berprestasi cemerlang, kendati dokter telah memvonis hidupnya tak akan melampaui ulang tahun ke-5?
Si kecil yang telah menjadi sang jawara tersenyum. “Karena saya lebih percaya ibu saya ketimbang para dokter itu,” jawabnya.
Mengapa?
“Sebab ibu saya selalu berdoa tiap malam ketika saya mulai tertidur. Tapi, saya masih bisa mendengar apa yang ibu mohonkan dengan bersimbah airmata kepada Tuhan untuk saya. Dan semuanya, Tuhan tulus berikan. Inilah hasilnya,” lanjutnya.
Hmm, sekelebat saya ingat baris kalimat di halaman pengantar di majalah internal kantor edisi terbaru. Tertulis dalam bahasa Inggris dan semoga saya tak luput mengartikan:
“Kepercayaan adalah seperti bayi yang tertawa ketika dilempar ke atas oleh ibunya. Karena dia percaya sepenuhnya, bahwa sang ibu PASTI akan kembali menatangnya.”
Dua kata lama yang maknanya kembali menjadi baru di mata saya. Ketakmungkinan dan kepercayaan. Tak ada yang tak mungkin ketika percaya penuh kepadaNYA.
So, tak berlebihan kalau sekarang saya kian punya alasan khusus menghubungi orang-orang tercinta. Sekadar bertanya kabar atau curhat tentang suatu hal.
Dan kini, tak perlu menunggu Minggu untuk melakukan semua itu. Dan tak ada salahnya menunggu hingga akhir minggu, demi sebuah momen Hari Kasih Sayang. Kalau sudah begitu, tak sabar rasanya menunggu yang spesial di Hari Minggu.
@den_ikko
Tulisan ini adalah seperti di notes FB saya. Diposting pada February 10, 2009 at 11:04pm.
