No Hope? Don’t Live!
Buat apa hidup tanpa berharap dan bermimpi? Karena segala kenyataan berawal dari impian dan harapan. Sekecil apapun itu.
Obrolan kecil siang hari dengan @yopiesuryadi plus sebuah link di email menggiring saya menyusun tulisan ini.
Satu komentar yang saya ingat darinya, “Gue ingin kita semua menyadari bahwa perbedaan itu indah.”
Pangkal obrolan kami adalah soal penusukan jemaat HKBP di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Semuanya mengutuk perbuatan biadab itu. Dari organisasi agama, kaum cendekiawan, tokoh agama hingga presiden Indonesia.
Dalam hati saya teringat ayat ini:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.(Matius 5:38-39)
Namun saya menyimpannya dan memilih tak mengungkapkannya dalam obrolan kami. Entah kenapa.
Satu hal yang saya tarik dari ayat itu adalah bersabar. Kesabaran yang sesungguhnya adalah tanpa batas. Tak terprovokasi untuk bertindak anarkis. Kesabaran yang berbatas bukan kesabaran yang sebenarnya.
Kemudian kawan saya itu melanjutkan ceritanya. Kali ini soal percakapannya yang menghangat dengan beberapa karibnya. Salah seorang di antaranya malah ingin melakukan demo besar di depan istana. Demi keadilan dan ketidakberpihakan.
Teman saya tak setuju dan lebih memilih jalan damai ketimbang demo yang rentan tersulut api anarki.
“Entah cara apa itu terus terang gue nggak tahu,” sambungnya.
Dia melanjutkan malam harinya dengan rentetan kata-kata di email yang saya terima di sebuah milis.
Dibentuklah “hope id”. Hope for Indonesia. Kita berharap Indonesia yang lebih baik. Kita berharap hidup antar umat beragama yang rukun. Kita berharap kebebasan beribadah tanpa perlu dihantui ketakutan. Apa yang kita lakukan? Ini bukan “gerakan”, “partai”, “ormas”, “mengumpulkan sumbangan”, bukan juga terikat oleh agama tertentu (lintas agama). Ini juga bukan tentang membela agama atau kaum tertentu or whatsoever. Hanya sebatas simpati sosial. Moga² bisa memberikan sedikit sumbangsih di dalam perubahan nyata di indonesia kita tercinta ini. Kita berharap untuk dapat hidup dengan perbedaan yang ada dan menerima dengan hati yang tulus dan jiwa yang besar.

Saya sempat menyumbangkan ide. Paling gampang adalah menyusun web blog dan mengisinya dengan berbagai hal tentang indahnya sebuah perbedaan. Kemudian menambahkan update twitter dari beberapa tokoh lintas agama yang kerap menyuarakan melangkah bersama dalam segala perbedaan. Tentu atas seizin mereka. Bisa juga menjadikan mereka sebagai kontributor untuk menulis di web blog itu.
Itu sebatas ide dan pemikiran saya. Sama seperti kawan saya di atas, saya pun punya impian yang sama. Hidup indah dalam segala perbedaan. Suku, agama, ras, golongan hingga gender di bumi nusantara.
Toh, Tuhan menciptakan kita tak sama. Adam dan Hawa contohnya. Pigura indah perbedaan itu awalnya adalah Taman Eden. Dimana semuanya ada dan memang untuk dimanfaatkan bagi kepentingan bersama. Buat kehidupan yang lebih baik. Tanpa embel-embel lain.
Di malam harinya saya berdiskusi ringan dengan 2 teman saya di kantor. Soal kaum moderat dan konservatif. Satu rekan saya bilang pangkal dari perseteruan Islam dan Kristen adalah perang salib zaman baheula. Tak tuntas dan masih menyisakan bara kesumat hingga sekarang.
Saya tak begitu mengerti sejarah. Saya juga tak paham politik dan tak pernah mau memahaminya. Dalam pikiran saya politik itu kotor.
Mungkin saya salah tapi saya tak menyesalinya.
Logika bodoh saya berkata sejarah adalah pijakan bagi setiap orang untuk menata masa depan. Terutama agar tak mengulang kesalahan yang sama. Bukan pula dipolitisir hingga slot era mendatang dirancang agar menyerupai pahit getir sejarah sebelumnya. Itu pembodohan massal namanya.
Yang saya tahu ketika seseorang punya niat tulus yang berangkat dari hati bersih, segalanya bakal mudah diwujudkan. Entah apa dan bagaimana caranya, Tuhan pasti kasih jalan asal semuanya bermula tanpa tetek bengek bernama kepentingan politik, pengaruh golongan atau apapun. Dan siapapun.
Hmm, saya jadi teringat singel lawas karya Paul McCartney. Sungguh dahsyat makna lirik yang dinyanyikannya bareng Stevie Wonder pada 1982:
Ebony And Ivory
Live Together In Perfect Harmony
Side By Side On My Piano Keyboard
Oh Lord, Why Don’t We?
Mengapa kita tak bisa menjadikan Indonesia sebagai Taman Eden segala perbedaan? Sebuah impian berbingkai harapan dan dirangkai niat yang tulus. Sekecil apapun itu sudah cukup untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Betapa indahnya kalau hidup seperti itu terwujud suatu waktu di tanah tumpah darah tercinta.
@den_ikko
(*) Thanks to #ovg: tanpa halal bihalal pada Senin (13/10/2010) obrolan kecil dan segala inspirasi untuk tulisan ini tak bakal terjadi.
Tags: #ovg, Alkitab, Ebony and Ivory, HKBP, Hope ID, Islam, Kristen, Matius, Paul McCartney, perbedaan, Stevie Wonder, Twitter




14. September 2010 at 19:43
Perbedaan itu indah. Karena keindahan datang dari Tuhan yang Maha Indah. Tuhan bisa saja menciptakan semua sama, tanpa perbedaan karena Dia Maha Pencipta.
Pertikaian, perselisihan, perang atau apalah namanya, datang dari nafsu manusia. Melihat sejarah, perang (semua perang) berpangkal pada nafsu. Mengatasnamakan agama atau negara, namun sejatinya hanyalah demi kepentingan duniawi.
Meski ilmu agama terbilang cetek, saya tahu agama saya sangat menjunjung tinggi toleransi. Batasannya adalah akidah (bagimu agamu, bagiku agamaku). Selain itu dikenal juga “hubungan dengan Tuhan” dan “hubungan dengan sesama manusia”. Keduanya harus seimbang.
Di agama saya, Rasulullah merupakan teladan. Beliau sangat menjunjung toleransi. Beliau membebaskan pemeluk agama lain beribadah, beliau berhubungan dagang dan bersosialisasi dengan penuh hormat.
Ada kisah, suatu hari beliau berdiri dari duduknya saat ada rombongan yang mengusung mayat seorang yahudi. Beliau ditanya mengapa harus berdiri, toh itu mayat seorang yahudi? Beliau menjawab, “Bukankah dia manusia?”
Pada kesempatan lain, beliau ditanya apakah boleh memberi bantuan kepada non-muslim. Beliau menjawab, “Boleh. Sebab mereka juga makhluk Allah.”
Menilik contoh kisah tersebut, saya pribadi miris dengan kasus penusukan atau kekerasan lainnya. Bukankah yang mereka sakiti itu manusia ciptaan Maha Pencipta?
Hitam, putih, kuning, merah, tinggi, pendek, cakep, jelek, dsb adalah bukti betapa Tuhan Maha Adil. Semua dikasihi dan disayangi karena Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
14. September 2010 at 20:54
Kisah yang indah
Kemarin ada teman yang cerita soal perang salib. Di suatu waktu, Saladdin sempat mengirimkan tabib atau obat-obatan ketika King Arthur sakit.
Mengirimkan sesuatu yang dibutuhkan kepada musuh perang bebuyutan? Sebuah hal yang indah, ‘kan?
14. September 2010 at 23:35
Betul, Gw mengenalnya sbg Salahuddin Al Ayubi. Saat dibawah kuasanya, Jerusalem menjadi tempat ibadah yang aman dan nyaman bagi 3 agama, islam, kristen, dan yahudi (kalo gak salah hehe). Kalo gak salah juga pas era King Richard The Lion Heart deh Ko….:)
Seharusnya ini yg dilihat dari sejarah, bukan bunuh2annya…
15. September 2010 at 00:01
Gw juga gak habis pikir kenapa yang negatif yang masih membekas sampai sekarang…
15. September 2010 at 02:07
True… hidup berdampingan antar agama dan suku itu bisa terwujud di Indonesia. Lima agama resmi di Indonesia selalu mengajarkan kebaikan bukan kebencian, apalagi senggol tusuk hehe.
menurut gue hati nurani setiap individu orang-orang Indonesia itu sebenernya baik (dalam konteks hidup damai). Semua itu karena politik dan kepentingan terselubung. ada udang di balik batunya (duh jadi pengen udang mayonaise).
Di Indonesia, rata-rata orang baru berani berbuat diluar jalur nuraninya kalo berkelompok dan ada imbalan. Kalo sendiri kecut deh.. yakin gw.
it’s a matter of politics om…gak ada abisnya mereka rela ngotor-ngotorin hati nurani demi Kekuasaan dan uang.
15. September 2010 at 02:17
Mungkin bener apa yang lo bilang, bimz.
Sayangnya pengetahuan –terutama naluri– politik gw terlalu cetek buat menilai itu semua.
Btw makasih udah kasih comment
15. September 2010 at 17:45
perbedaan apapun bentuknya memang sudah beda, tugas kita adalah untuk membuatnya indah…
15. September 2010 at 18:09
dalam segala kesamaan pasti ada perbedaan.
contohnya bayi kembar. dalam skala waktu dan tempat berpijak pasti akan ada jeda minimal menit dan beda sentimeter ketika lahir
22. November 2011 at 16:17
Thanks for posting these results.