Kuda Troya Bernama Nexus One
Buat saya, Nexus One adalah fenomena. Bagi Google , Nexus One ibarat kuda Troya.
Masih ingat cerita kuda Troya?
Biar saya menyegarkan ingatan Anda.
Di suatu masa, para prajurit Yunani telah mengepung Troya selama 10 tahun. Tak sedikit pun bentengnya tembus. Akhirnya, dirancang dan dibuatlah sebuah persembahan buat Poseidon. Sebuah patung raksasa berbentuk kuda perkasa.
Ketika pasukan Yunani tak terlihat di sekitarnya, para serdadu Troya mengira sang lawan telah mundur kembali ke negerinya.
Ketika mendapati pahatan kayu berbentuk kuda rupawan, kaum Troya terpana dengan mahakarya Yunani ini. Patung kuda ini digiring masuk ke dalam benteng. Bentuknya yang gagah nan memikat membuat banyak orang mengaguminya. Tak sedikit pun rasa takut dan jeri. Ya, karena kuda raksasa ini mati.
Mati? Salah besar!
Saat senja berganti malam, para prajurit Yunani keluar berhamburan. Diam-diam. Troya tunduk lumpuh sebelum pagi temaram. Hanya dalam hitungan jam.
Metafora historis ini pula yang pertama tertangkap di benak saya, ketika Google memutuskan tak akan memproduksi lagi lanjutan Nexus One. Mengapa? Karena Google ingin berkonsentrasi mengembangkan Android besutannya.
Sistem operasi ponsel pintar berbasis kernel 2.6 ini memang butuh pendobrak. Ketika pendahulu Nexus yakni HTC Dream, Magic, dan Hero yang belum mampu menjadi pahlawan berbalut sensasi magis demi mendobrak eksistensi sistem operasi mobil yang telah lebih dulu mumpuni. Google –dengan dukungan HTC– akhirnya melemparkan mahakarya berprosesor Snapdragon 1 GB pada 5 Januari 2010.
Dunia terhentak dengan keanggunan, tampilan, dan performanya. Kolong langit bak seketika menoleh pada Nexus. Tak berapa lama setelah rilis resmi, Apple mengajukan tuntutan hukum terhadap HTC. Sebabnya jelas, Apple menuduh HTC Passion –sebutan lain Nexus One– mencuri sejumlah paten iPhone-nya.
Dari segi penjualan ponsel berkode N1 ini memang tak menggembirakan. Hanya Motorola Droid –smartphone Android yang bergerak di jaringan CDMA– yang mampu menyaingi penjualan iPhone. Bukan Nexus.
Dan, Google memutuskan menghentikan penjualan online-nya ketika stoknya habis. Mereka memilih memasarkan ponsel ini lewat sejumlah mitra di berbagai belahan dunia.
Namun, Android tak lantas mati. Kadung merajalela bahkan. Hingga Juni 2010 tercatat aktivasi ponsel berbasis Android mencapai 160 ribu per hari. Padahal 4 bulan sebelumnya ‘hanya’ 60 ribu per 24 jam.
Bukan soal gengsi, namun juga karena lesatan jumlah aplikasi. Di Google Market yang tertanam di jutaan handset Android, tercatat 84 ribu aplikasi yang bisa diunduh sesuai dengan kategori dan kebutuhan penggunanya. Lebih dari setengahnya adalah aplikasi tak berbayar. Gratis.
Hamburan aplikasi ini berbanding lurus dengan serbuan segala ponsel pintar berbasis Android. Sehabis Nexus One, tak terkira banjir handset bersistem operasi ini dari berbagai merek ternama. Yang lebih menarik, bisnis Motorola terselamatkan berkat Android.
Bukan cuma Motorola, Sony Ericsson yang merilis Xperia alias X10 langsung jadi hit di Jepang. Laris manis. Sementara di belahan Britania, penjualan ponsel berbasis Android melesat cepat.
Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Traffic ponsel berbasis Android mengungguli iPhone hanya dalam tempo 3 bulan. Seketika eforia Android demikian membahana di seluruh dunia. Luar biasa.
Uniknya, Google menyatakan tak bakal membuat sekuel N1. Singkatnya, misi sudah diselesaikan dengan baik oleh Nexus.
“Model bisnis kami dan Apple pun beda. Model Google sepenuhnya terbuka. Anda dapat mengambil perangkat lunak dengan gratis, bebas memodifikasinya, Anda pun bisa menambahkan aplikasi apa saja, membangun bisnis di atasnya, dan Anda pun dapat menambahkan perangkat keras apa saja. Model Apple kebalikan dari itu semua,” lanjut Schmidt.
Tapi menurut saya, Nexus One tetaplah ibarat kuda Troya yang pertama mendobrak dan memberi kebebasan bagi semua pihak. Sungguh pas dengan arti Nexus yang dalam bahasa Latin berarti koneksi. Bisa juga bermakna pusat. N1 bak smartphone yang menghubungkan ponsel Android satu dengan lainnya, dengan N1 berdiri sebagai pusatnya.
Bagi saya, Nexus One tetaplah mahakarya yang layak dikoleksi karena kandungan historisnya yang seperti legenda Troya. Sebuah memorabilia.

